Kategori: Katolik (page 1 of 2)

Mengenal Sejarah Kristen Katolik di Korea Selatan

Korea Selatan menjadi sebuah negara yang begitu populer di Asia bahkan hingga penjuru dunia. Kepopuleran Korea sebab kebijakan pemerintah berupa Korean Hallyu yang berhasil menjadi gelombang budaya Korea. Seluruh Asia hingga penjuru dunia mengenal dan mengagumi industri hiburan Korea seperti musik KPop dan drama. Selain itu bidang olahraga seperti sepak bola juga membuat negara ini semakin di kenal. Pemain sepak bola Korea terkenal seperti Park Ji-sung dan Son Heung-min menjadi buah bibir tersendiri di kalangan pecinta bola. Mungkin kita saat ini sangat menyukai beragam kebudayaan Korea dari pakaian hingga makanan. Lantas saat menonton drama Korea mungkin kita juga bertanya-tanya “apa agama yang sebenarnya masyarakat Korea anut?”.

Dinamika Agama di Korea Selatan

Dinamika agama di Korea Selatan menjadi suatu hal yang menarik untuk kita bahas. Agama yang merupakan perantara media kita kepada Tuhan menjadi suatu hal yang penting. Akan tetapi, di masyarakat Korea agama mereka anggap menjadi ranah privasi dan tidak terlalu penting. Maka mari kita membahas agama terbesar di Korea Selatan yaitu Kristen Katolik. Kristen Katolik menjadi agama terbesar di negara ini dengan jumlah penganut hampir sekitar 25% jumlah populasi negara mereka. Jumlah tersebut menjadi jumlah yang besar karena mayoritas penduduk Korea saat ini memilih untuk tidak beragama. Oleh sebab itu berikut mari kita mengenal sejarah Kristen Katolik di Korea Selatan;

Sejarah Masuknya Kristen Katolik di Korea Selatan

Sejarah awal dari pembahasan kita adalah saat masuknya pertama kali Kristen Katolik ke Korea Selatan. Sekitar abad ke 18 agama ini mulai muncul di tanah Korea. Kristen Katolik yang berasal dari barat mereka sebut sebagai Seohak atau ajaran dari barat. Kaum cendekiawan yang berilmu yang pertama kali tertarik untuk mempelajari agama ini. Kaum Sirhak atau kaum cendekiawan mulai mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan Kristen Katolik. Cendekiawan yang terkenal masuk Katolik pertama kali adalah Jeong Yak-yong. Sedangkan orang Korea yang pertama kali yang masuk Katolik adalah Yi Seung-hun. Kedua orang tersebut yang mendasari Kristenisasi di tanah Korea.

Larangan di Masa Joseon

Pada saat itu Korea di kuasai oleh pemerintahan dinasti Joseon yang sangat menjunjung tinggi nilai budaya. Maka tidak mengherankan bahwa larangan sangat keras pemerintahan berlakukan untuk menangkal segala macam “budaya asing” salah satunya juga agama. Agama Katolik yang merupakan agama “asing” juga tidak luput dari kebijakan larangan tersebut. Lebih tepatnya pada tahun 1791 pemerintahan Joseon mengeluarkan kebijakan Anti-Katolik dan menyiksa setiap penganutnya. Siapa saja rakyat Korea yang ketahuan beribadah ataupun berperilaku dengan agama Katolik maka akan terkena hukuman yang berat. Hukuman berat ini seperti hukuman cambuk hingga sampai hukuman mati.

Peningkatan Penganut

Meskipun banyaknya ancaman, siksaan hingga pembunuhan tidak menyurutkan semangat Kristenisasi di Korea. Bahkan penganut Katolik di Korea semakin meningkat jumlahnya. Pada tahun 1849 kebijakan tersebut dapat suruh sebab kekuasaan raja Seoljong yang bijaksana. Beliau lebih bijaksana membuka diri kepada budaya luar hingga memberikan toleransi kepada para penganut Katolik. Kebijakan ini sangat berarti besar bagi Kristenisasi di tanah Korea. Hal ini karena terbukti pada tahun 1849 sampai 1850 jumlah penganut Katolik meningkat menjadi 23.000 yang sebelumnya berjumlah hanya 11.000. Pada tahun 1884 saat bangsa Korea terkena kudeta dan masuknya penjajah Jepang menyebabkan Korea membuka diri. Penganut Kristen kian hari kian bertambah jumlahnya secara signifikan. Bahkan penganut Kristen terbanyak pada saat itu di daerah Pyongyang berjumlah 1 banding 5 dari populasi rakyat Korea.

Perang Korea dan perang dingin pada tahun 1950 menyebabkan banyaknya penganut Kristen berpindah dari Korea Utara ke Selatan. Hal ini karena pemerintahan Kim Il-sung di Korea Utara yang menganut ideologi komunis sangat melarang hal yang berbau agama.

Korea Selatan Saat Ini

Dinamika banyaknya kaum muda yang lebih memilih tidak beragama menjadi suatu persoalan tersendiri bagi bangsa ini. Namun agama Kristen Katolik hingga saat ini menjadi agama dengan jumlah penganut terbesar di Korea Selatan. Bahkan presiden Korea Selatan saat ini Moon Jae-in menganut agama Katolik yang taat. Maka dengan ulasan ini semoga Anda dapat memahami dengan baik sejarah berkembangnya agama Kristen Katolik di Korea Selatan.

 

Yuk, Tengok 3 Wanita Populer Indonesia Beragama Kristen Katolik

Presenter Beragama Kristen Katolik

Artikel kami kali ini akan membahas mengenai presenter wanita Indonesai terpopuler beraga Kristen Katolik. Presenter, pembawa suatu acara di berbagai event atapun acara, terutama yang ditampilkan lewat stasiun televisi. Tugasnya melingkupi pembawaan acaara berita, kuis, game, talk show, reality show, dan bermacam acara hiburan lainnya. Karena itulah presenter termasuk kedalam orang populer, sebab wajah mereka sering tampil di televisi. Selain itu, peran presenter sekaligus artis atau tokoh cukup banyak dikenal masyarakat. Para presenter yang akan kami jelaskan ini bukan termasuk dalam berita televisi. Lalu siapa sajakah presenter wanita populer Indonesia beragama Kristen Katolik? Berikut data singkat mengenai detail profil mereka.

Yuanita Christiani

Presenter terpopuler beragama kristen katolik pertama adalah Yuanita Christiani. Lahir di Jakarta, 14 April 1986. Ia dikenal secara umum dari karir presenternya di acara Espresso Weekend, Take Me Out Indonesia, dan Take Him Out Indonesia yang tayang di stasiun Indosiar. Awal mula Yuanita terjun dalam dunia MC dari tahun 2000, sewaktu dia menjadi MC di acara “Perah Baratayudha”. Pertama kali ia masuk di TV pada tahun 2006 menjadi presenter acara Permak Abis di studio TransTV. Selain itu Yuanita juga berperan jadi co-host dalam event Berani Tukeran di studio TV yang sama. Yuanita sempat unjuk gigi di studio MetroTV dalam kuis Akhir Tahun Berhadiah, serta Malam Jakarta di studio AstroTV.

Secara bertahap karirnya menanjak hingga di pertengahan 2007, mulai masif membawakan berbagai acara mc seperti pernikahan dan beberapa acara resmi. Salah satunya seperti acara televisi Avatar The Legend Of Aang, Tutur Tinular dan Mahabhrata. Yuanita pada masa kesuksesannya, merambah ke dalam acara sport di stasiun Trans7 itu sekaligus menaikkan namanya sebagai salah seorang presesentar sporty. Meski dalam kesibukannya, ia tak lupa untuk mengunjungi gereja tiap minggunya sebagai rasa syukurnya.

Rosianna Silalahi

Presenter populer beragama kristen katolik selanjutnya adalah Rosianna Silalahi. Ia mempunyai nama lengkap Rosianna Magdalena Silalahi, lahir di kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 27 September 1973. Selepas menerima gelar sarjana, Rosianna berhasil diterima saat mengikuti audisi TVRI sebagai reporter berita. Mulai dari awal karir reporter inilah yang membesarkan nama Rosianna. Tawaran lain muncul ketika Liputan 6 di SCTV mencari reporter dan presenter baru pada tahun 1998. Rosiana pun berhasil bergabung bersama jajaran pembawa acara yang tampil di belakang meja siaran tiap harinya. Masa cemerlang yang ia tekunin dari awal karirnya membuat dia sampai menjadi Pemimpin Redaksi Liputan 6 di SCTV. Bahkan Rosianna berkesempatan jadi salah satu dari 7 jurnalis TV di Asia bisa mewawancarai ekslusif Presiden AS George Bush di White House, Washington DC, Amerika Serikat pada tahun 2003.

Nama besar Rosianna kian naik daun setelah menerima gelar Presenter Talk Show Terfavorit dan Presenter Current affair Terfavorit pada Panasonic Award tahun 2004 silam. Ketika Pemilu Presiden tahun itu, Rosianna membuat program acara Kotak Suara yang mengupas segala tentang money politics. Berkat itu ia berhasil meraih penghargaan Indonesia Journalist Board di akhir tahun 2004. Tiap tahunnya juga dia mengikuti acar amal diberbagai panti asuhan yang ada di Indonesia. Sekarang ini Rosianna telah memiliki debutnya sendiri sebagai pemimpin kepala Redaksi KompasTV setelah pindah dari SCTV.

Novita Angie

Novita Anggraeni atau Novita Angie, presenter populer beragama kristen katolik terakhir dalam artikel kami. Dalam masa karirnya ia sudah menekuni berbagai acara yang ada di stasiun TV Indonesia. Seperti mempresenteri Tamu Pesta Indosiar, Musik Mania Indosiar, Metro Kuis Metro TV, KISS Indosiar dan NBA Action Indosiar. Novita pernah terdaftar dalam Nominasi Panasonic Awards Presenter Sporty Wanita tahun 2002 dan Nominasi Panasonic Award Kategori Presenter Infotainment tahun 2003. Sama halnya dengan presenter pada umumnya, dia tidaklah tiba-tiba bisa sesukses sekarang. Perjalanannya dari tahun ketahun terus ia tekuni dalam menitik karir presenternya. Meskipun sudah menjadi populer, dia tetap bersyukur dengan mengunjungi gereja tiap minggunya. Malah ia lebih dikenal religius dalam lingkungan keluarga atau pun rumahnya di Jakarta.

Mengintip Sedikit Umat Katolik pada Masa Penjajahan Kolonial

Mengenang masa lalu adalah pilihan setiap orang. Tidak peduli seperti apa masa lalu tersebut dan mau bagaimana kita menyikapinya, masa lalu itu tidak akan berubah dan akan selalu menjadi bagian dari sejarah.

Indonesia sendiri memiliki masa lalu yang terbilang cukup kelam pada masanya. Seperti perang dunia kedua ataupun penjajahan. Masa-masa itu sangatlah pahit bagi bumi ibu pertiwi kita.

Banyaknya pengorbanan yang telah para pejuang berikan untuk bumi kita, banyak dari mereka yang gugur, tetapi melukis kisah kemerdekaan yang luar biasa. Meningat banyaknya umat di negara ini, pasti tidak serta merta memecahkan kesatuan negara.

Bahkan semua umat itu bersatu demi kemerdekaan. Lalu kali ini kita akan melihat lebih dekat seperti apa salah satu umat di Indonesia pada masa kolonial dulu.

Umat Katolik

Pada saat itu Umat Katolik berbaur dan hidup berdampingan dengan Umat Muslim. Sayangnya mereka seperti orang asing begitu memasuki gereja karena merasa lebih rendah dari pada golongan orang-orang eropa.

Beralih menuju pendudukan Jepang, Umat Katolik di Indonesia sepertinya tidak lebih baik dari sebelumnya. Menurut seorang budayawan serta rohaniwan, Gregorius Budi Subanar, beberapa pemimpin dari umat katolik ditahan. Pelayanan yang mereka dapatkan juga tidak terlalu baik bahkan nyaris tersendat.

Di sisi yang berbeda, menurut Romo Banar, mereka yaitu Umat Katolik bahkan ada yang keluar dari kepercayaannya dengan cara mengembalikan buku-buku doa ke dalam gereja. Meski begitu, para pemimpin yang bertahan tetap berusaha sekuat mungkin.

Nasib yang Tragis

Dengan perlakuan seperti itu, banyak dari para pemimpin yang memiliki darah belanda di dalamnya mengalami nasib tragis. Mereka ditangkap lalu mendekam dalam penjara bahkan sebanyak 173 imam misionaris langsung dijebloskan ke dalam kamp interniran.

Hal tersebut berlanjut pada pemimpin yang ada di Langgur. Mereka langsung ditangkap oleh pasukan tentara Jepang yang mendarat di Indonesia. Proses penangkapan tersebut berlangsung pada bulan Mei tahun 1942.

Sedangkan untuk bentuk otoritasa yang ada di sana merupakan bentuk Vikarat Apostolik. Bentuk otoritas ini adalah otoritas yang terbentuk dalam sebuah kawasan ataupun daerah dari misi negara tanpa adanya keuskupan. Status ini juga meningkat di daerah Semarang menjadi tingkat Keukupan Agung pada tahun 1961.

Beralih menuju Kota Surakarta, tiga orang misionaris serta dua lainnya ditangkap pada tanggal 30 Mei tahun 1942. Setelah itu pada tanggal 28 Juni tahun 1942, para anggota dari Tarekat Maria juga ikut tertangkap. Menyusul orang-orang lainnya yang sebelumnya telah tertangkap.

Pihak pemerintah Jepang juga mengeluarkan perundang-undangan yang menyulitkan para Umat Katolik. Dalam undang-undang tersebut semua Umat Katolik yang akan beribadahdiharuskan menggunakan bahasa musuh yang tidak lain adalah Bahasa Belanda.

Para Pastor yang menjalankan tugasnya pun berada di bawah kontrol dan semua laporan tersebut harus lengkap.

Perjuangan Seorang Lelaki Bernama Soegijapranata

Banyaknya para pemimpin Umat Katolik yang gugur akibat tertangkap oleh pihak Jepang, seorang Soegijapranata menjadi satu-satunya pilar yang masih menjaga keutuhan persatuan Umat Katolik di Kota Semarang.

Ia memiliki antusias dan juga semangat juang yang tinggi. Soegijapranata merupakan seorang pemimpin yang selalu rutin berkomunikasi dengan para aktivis gereja. Salah satunya adalah seorang pemimpin bernama Mgr. P. Willekens, seorang Vikaris Apostolik yang berasal dari Batavia. Beliau mendapatkan pembebasan berkat bantuan dari pihak diplomat Negara Swiss.

Keduanya saling berkomunikasi dengan menggunakan surat. Bersama dengan Rektor Seminari Kecil Mertoyudan dari Jawa Tengah. Mgr. P. Willekens dan juga dirinya mengirim surat perizinan untuk membuka kembali Seminari Menengah pada pihak pemerintah Jepang.

Walaupun berada dalam situasi yang sulit seperti itu, Soegijapranata hebatnya berhasil mengatur tingkat pelayanan secara langsung menuju daerah-daerah kecil maupun melewati surat-menyurat.
Bahkan surat yang terkirim pun berjumlah ratusan setiap minggunya.

Selain itu juga Soegijapranata melakukan komunikasi dengan Sukarno. Ia pernah ke Semarang untuk melakukan pidato sambil menyerukan semangat juang kepada para pemuda untuk mengikuti gerakannya.

Setelah kemerdekaan berhasil Indonesia dapatkan, Umat Katolik pada saat itu menyatakan 100% katolik dan juga seorang warga Indonesia. Motto tersebut menjadi populer di kalangan para pemeluk Katolik.

Gereja yang Bersatu? Paus Memberikan Harapan kepada Anglo-Katolik

Dalam pesan pertamanya untuk menjadi Paus, Benediktus XVI mengatakan. Bahwa tugas penting penerus Petrus adalah “bekerja tanpa lelah untuk membangun kembali kesatuan yang utuh. Dan terlihat dari semua pengikut Kristus”.

“Isyarat nyata yang memasuki hati dan menggerakkan hati nurani” sangat penting dalam “menginspirasi setiap orang bahwa pertobatan batin. Yang merupakan prasyarat untuk semua kemajuan ekumenis.”

Konstitusi Apostolik Paus, Anglicanorum Coetibus. Yang memungkinkan anggota persekutuan Anglikan diterima secara kolektif ke dalam Gereja Katolik dalam persekutuan penuh. Adalah isyarat nyata untuk mengejar tujuan ini.

Perluasan struktur Gereja Katolik yang baru terjadi minggu lalu melalui peluncuran ordinariat untuk Anglikan di Australia. Menerima mereka ke dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik sambil membiarkan mereka mempertahankan beberapa kebiasaan mereka.

Persekutuan Baru

Gereja Katolik telah mengadakan dialog resmi dengan banyak gereja Kristen, banyak dari mereka berasal dari Timur. Dialog ini, dalam beberapa kasus, telah membawa gereja-gereja memasuki. Atau memasuki kembali persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, melalui kesepakatan antara Paus dan para pemimpinnya.

Gereja-gereja ini telah mengukuhkan identitas dan keyakinan dasar mereka sebagai Gereja Katolik. Tetapi mereka juga membawa tradisi, praktik liturgi, dan pengalaman mereka.

Ini mungkin tampak aneh bagi mereka yang memandang Gereja Katolik sebagai monolit yang haus kekuasaan. Namun, Gereja Katolik terdiri dari banyak gereja lokal berbeda yang berbagi kesatuan fundamental dalam iman. Dan kredo melalui Roh Kudus, terutama di bawah jabatan St Peter (Paus).

Orang Anglikan Menyambut tetapi…

Sikap Paus kepada orang Anglikan di Anglicanorum Coetibus serupa dan berbeda dengan dialog ekumenis ini. Ini serupa karena memungkinkan Anglikan untuk secara bersama-sama masuk ke dalam persatuan dengan Gereja Katolik. Namun, ini berbeda karena ini menyangkut individu dan kelompok yang memasuki persekutuan (bukan seluruh Gereja Anglikan melalui kesepakatan resmi).

Menurut Paus, langkahnya untuk menyambut orang Anglikan ini secara kolektif dimotivasi oleh “kelompok Anglikan”. Yang telah mengajukan petisi kepada Gereja Katolik untuk masuk “ke dalam persekutuan Katolik penuh secara individu maupun bersama.”

Apa yang berbeda, kemudian, dalam kaitannya dengan hubungan Anglikan-Katolik. Dan apa yang menyebabkan kontroversi – adalah bagaimana orang Anglikan disambut ke dalam Gereja Katolik. Alih-alih diterima sebagai individu (seperti yang telah dilakukan), orang-orang Anglikan disambut secara kolektif ke dalam Gereja Katolik.

Beberapa orang mempertanyakan perlunya Ordinariate, mengajukan pertanyaan. Haruskah gereja-gereja disatukan sekarang dalam cara yang terpisah-pisah atau haruskah kita menunggu seluruh gereja?

Langkah Pertama

Tindakan tersebut mendapat tafsiran sebagai merusak Persekutuan Anglikan, daripada terlibat dalam dialog ekumenis yang sejati. Uskup Agung Anglikan Canterbury, Dr. Rowan Williams, bagaimanapun tidak setuju dengan penafsiran ini. Dengan menjelaskan bahwa tindakan Paus adalah tanggapan terhadap situasi di mana kelompok-kelompok Anglikan ingin menjadi Katolik sekarang.

Dengan cara ini, Dr. Williams berpendapat bahwa Konstitusi Paus adalah semacam produk dialog ekumenis. Yang mengakui bahwa unsur-unsur warisan Anglikan dapat secara bersama miliki oleh orang Anglikan dan Katolik. Atau, seperti yang sudah Paus ungkapkan, persekutuan Anglikan bisa menjadi “hadiah berharga yang memelihara iman para anggota ordinariat dan sebagai harta untuk dibagikan”.

Orang, kelompok dan tradisi Anglikan dapat menjadi bagian dari Gereja Katolik untuk memperkaya Gereja; di mana menjadi Anglikan sepenuhnya dan Katolik sepenuhnya bergabung. Manfaat dari “ordinariate” adalah memungkinkan pendekatan kolektif, daripada pendekatan individual, yang mempertahankan tradisi. Hubungan dan sejarah Anglikan dan tampaknya membuat proses persatuan lebih mudah.

Terlalu Cepat?

Ini adalah momen yang menarik dalam hubungan Anglikan-Katolik. Banyak prasangka dan kesukuan di masa lalu telah surut.

Dialog dan pemahaman yang sejati dapat tumbuh, terutama melalui dialog resmi di mana isu-isu penting telah dieksplorasi dan disepakati. Namun, ada juga masalah yang menjadi sorotan – penahbisan perempuan, pengajaran tentang seksualitas – yang menyoroti perpecahan.

Di tengah-tengah masalah ini, “ordinariat” Anglikan pertama di Australia telah dipandang sebagai makna banyak “tradisionalis”. Akan meminta izin masuk untuk menghindari keputusan Gereja Anglikan baru-baru ini.

Tapi ini bukan maksud semua orang yang bergabung. Selain itu, kita harus sama jelasnya bahwa menjadi bagian dari ordinariat bukanlah dan tidak boleh tentang mendaftar ke agenda politik. Tentang perempuan atau homoseksualitas atau masalah lain – atau menegaskan ketidakpuasan yang tidak masuk akal.

Masalah-masalah ini penting, tetapi yang pertama dan terutama ordinariat adalah tentang menegaskan sifat ‘katolik’ dari gereja. Gereja Anglikan sendiri selalu menghargai sifat katolik ini. Sifat katolik ini secara tradisional memiliki definisi sebagai universalitas gereja-gereja lokal yang mendapat bimbingan oleh Tuhan. Yang secara nyata memiliki tanda oleh persatuan di sekitar kantor Santo Petrus.

Ini adalah “katolik” – yang Tuhan (bukan manusia) memungkinkan melalui kasih yang penuh kasih karunia. Yang ditegaskan oleh orang Anglikan dan Katolik, sambil terus berdialog tentang praktiknya.

Jadi, kecuali seseorang mendefinisikan “Anglikan” sebagai “bukan Katolik”, ordinariat dapat menjadi jalan bagi sensibilitas Anglikan-Katolik. Nyatanya, itu menyediakan jalan bagi mereka yang mencari eklesiologi katolik. Yaitu, struktur dan persekutuan Gereja – yang biasanya merupakan keinginan nyata dari mereka yang mencari Gereja Katolik.

Konsekuensi tidak Diketahui

Meskipun demikian, meskipun antusiasme Paus terhadap prakarsa oikumenis patut mendapat pujian, banyak detail yang masih harus mereka kerjakan dan beberapa implikasinya menantang.

Implikasi utama menyangkut Komuni Anglikan itu sendiri. Jelas ada perpecahan dan ketegangan di dalam persekutuan. Inisiatif Paus mungkin menawarkan solusi untuk beberapa, sementara secara tidak sengaja menyebabkan dilema bagi yang lain.

Eklesiologi dan persekutuan Gereja Anglikan berada pada titik yang sangat penting. Dan banyak orang Anglikan yang berniat baik sedang menyelidiki jiwa. Tetap bersama Gereja Anglikan atau pindah ke Gereja Katolik bukanlah keputusan yang mudah. Satu yang membutuhkan refleksi individu tentang sifat Gereja dan situasinya sendiri.

Ada juga implikasi bagaimana Gereja Katolik dapat mendukung hati nurani individu dari mereka. Yang berada dalam Komuni Anglikan dalam pemahaman ini.

Persatuan dan Perubahan

Namun demikian, seperti yang oleh Paus dan Uskup Agung Canterbury akui, ada banyak orang Anglikan yang sekarang siap untuk bersatu. Paus ingin menanggapi kesiapan ini secara pastoral dan membantu memfasilitasi persatuan.

Tapi orang Anglikan bergerak menuju persatuan dengan langkah yang berbeda. Ini menghadirkan masalah pastoral yang lebih besar: orang-orang berada di titik berbeda dalam perjalanan pertobatan dan kesatuan ekumenis. Perbedaan ini dapat menjadi lebih buruk ketika kelompok berpindah, bukan individu.

Di sisi lain, pembentukan ordinariat masih perlu ada pemahaman oleh banyak umat Katolik awam. Sementara umat Katolik menginginkan persatuan. Suatu pemahaman tentang prakarsa kepausan ini dan perlunya semangat sambutan dan keramahtamahan, keduanya perlu adanya pemupukan.

Ordinariat Anglikan adalah tanda kemungkinan persatuan. Seperti yang sudah Paus katakan, persatuan adalah prioritas Gereja, karena persatuan adalah ekspresi cinta sejati Tuhan.

Namun, seperti semua hubungan, persatuan ini akan membutuhkan saling pengertian, dialog, kerja sama, keramahtamahan, kemurahan hati. Dan kedewasaan rohani – dengan kata lain, keinginan yang tulus untuk menjadi saudara. Dan saudari yang tidak mementingkan diri sendiri di dalam Kristus. Melampaui kepicikan apa pun – untuk membuatnya berhasil.

Bagaimana Merayakan Paskah di Bawah Penguncian?

Dengan gereja-gereja ditutup dan ziarah tahunan dibatalkan, umat Kristen di seluruh dunia bertanya-tanya bagaimana bersyukur kepada Tuhan pada Paskah ini. Dan bukan hanya orang Kristen – pikirkan juga tentang “Chreaster”. Apakah Anda menghadiri gereja hanya pada hari Natal dan Paskah? Jika demikian, Anda adalah seorang Chreaster, dan Anda tidak sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa kehadiran di Gereja Inggris dapat meningkat 50 hingga 100 persen pada saat itu.

Bahkan jika kita berasumsi bahwa sebagian besar Chreaster menghadiri gereja karena alasan budaya daripada alasan agama. Masih ada sesuatu yang hilang bagi mereka dan pengunjung gereja reguler tahun ini. Kesempatan yang hilang untuk berkumpul dengan satu sama lain dalam suatu komunitas. Untuk mengalami rasa terima kasih dan pujian – dan melakukannya di dalam gedung-gedung yang seringkali berusia ratusan tahun. Dengan nyanyian dan kata-kata yang diucapkan seringkali berusia ribuan tahun. Ini adalah kesempatan yang hilang yang dirasakan paling menyedihkan ketika sekarang adalah saat kehilangan. Hilangnya normalitas, masyarakat dan, putus asa, kehidupan individu.

Umat Kristen

Umat ​​Kristen – mungkin lebih dari Chreaster – menghadapi dilema lain. Haruskah mereka mendukung keputusan untuk menutup gereja atau menentangnya seperti yang telah dilakukan oleh orang lain dari berbagai denominasi. Umat ​​Kristen telah mempertaruhkan penderitaan dan kematian untuk beribadah sebelumnya, jadi mengapa tidak sekarang, jalankan argumen.

Tidak ada jawaban yang mudah untuk pertanyaan itu. Namun, salah satu tanggapannya adalah menata kembali gagasan haji. Saat kami mengikuti saran pemerintah untuk “tinggal di rumah”, adalah mungkin untuk menjadi peziarah yang tinggal di rumah. Tinggal di rumah atau (meminjam dari Max Weber) “ziarah sehari-hari” secara khusus dikaitkan dengan Reformasi Protestan.

Martin Luther dan Iman

Beberapa bagian paling dramatis dalam Martin Luther menafsirkan ulang hubungan antara kerja dan penyembahan. Dia menggambarkan mengganti popok, menjadi tentara, dan bahkan mengeksekusi penjahat sebagai karya cinta Kristen, jika dilakukan sebagai ekspresi iman.

Dalam teologi Luther, tidak mungkin bagi siapa pun untuk mendapatkan kebenaran melalui perbuatan. Pergi berziarah, menjadi seorang biarawan, dan mengganti popok sama tidak efektifnya dengan keselamatan. Kebenaran adalah sola fide, iman saja: percaya pada kematian Kristus sebagai korban penebusan untuk dosa umat manusia. Pengorbanan yang dirayakan umat Kristen pada Paskah. Tetapi lebih baik mengganti popok daripada menjadi biksu atau biksuni. Menurut Luther (dirinya mantan biksu), yang tidak menyukai cara mereka mengisolasi diri bukan hanya dari kehidupan sehari-hari. Tetapi juga biologi manusia biasa.

Para biksu dan biksuni menunjukkan “dosa” dari “kesombongan”. Mereka pikir mereka dapat membuat diri mereka suci dengan menentang perintah langsung dari Tuhan untuk “Berbuah dan berkembang biak”. Alih-alih melakukan sumpah biara, Luther bersikeras bahwa pria dan wanita memuliakan kehidupan keluarga. Secara khusus merekomendasikan agar para ayah memandang mengganti popok sebagai sesuatu yang dapat dilakukan dalam “iman Kristen”.

Sama seperti biksu dan biksuni. Keyakinan bahwa ziarah harus merupakan perjalanan literal mendorong orang untuk berpikir. Bahwa ada tempat dan aktivitas khusus yang dapat membuat mereka suci. Tempat dan aktivitas yang tidak dikotori oleh kehidupan biasa. Tapi itu adalah kehidupan biasa yang Tuhan ciptakan dan di dalamnya Ia menjadi darah dan daging. Dan orang-orang berdosa biasa yang dia selamatkan. Bagi Luther, seorang Kristen yang mengganti popok untuk merawat keluarga tidak berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Tetapi menjadi sesuatu: seorang Kristen yang setia yang meniru Kristus dengan mencintai dan melayani sesama.

Bajak sebagai Ziarah

Meskipun ziarah tinggal di rumah lebih jelas adalah Lutheran, itu adalah tema dalam karya ziarah sebelum Reformasi Protestan. Piers Ploughman abad ke-14 William Langland mengkritik mereka yang pergi berziarah untuk mencari tempat suci tetapi bukan “kebenaran”. Akhirnya, beberapa peziarah yang mencari kebenaran sejati muncul dan bepergian dengan Piers. Tetapi kemudian mereka harus berhenti untuk membantu membajak ladang “setengah acre” miliknya. Tampaknya ini adalah ziarah, bukan gangguan darinya.

Demikian pula, The Testimony of William Thorpe membedakan antara ziarah yang “benar” dan “salah”. Thorpe diadili karena menjadi Lollard, sebuah kelompok agama yang dimulai di Inggris pada abad ke-14. The Lollards mengantisipasi banyak kepercayaan yang terkait dengan Reformasi belakangan. Termasuk upaya pertama untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris sehingga orang biasa dapat membacanya.

Bagi Thorpe, peziarah sejati adalah “bijaksana”, sedangkan peziarah palsu melakukan perjalanan mencolok ke Canterbury – yang hanya liburan yang memanjakan diri. Begitu memanjakan, keluh Thorpe, bahkan termasuk bermain bagpipe.

Selain bagpipes, kategori “ziarah sehari-hari” itu sendiri bukannya tanpa masalah. Weber mengaitkannya dengan kebangkitan kapitalisme – dan, lebih jauh lagi. Filsuf kontemporer Charles Taylor dan teolog Universitas Cambridge Michael Banner melihatnya sebagai penyokong kebangkitan masyarakat konsumeris sekuler. Jika haji sejati adalah pekerjaan dan kehidupan keluarga, maka tidak lama kemudian mencari uang dan memiliki anak adalah agama kita.

Tapi ini hanya untuk mengatakan “ziarah sehari-hari”, seperti ziarah yang sebenarnya, bukanlah jawaban sendiri. Misalnya, perlu untuk menjadi bagian dari penataan ulang denominasi yang lebih luas. Dari layanan gereja digital yang terjadi pada Paskah ini.

Kondisi di saat Krisis

Dalam krisis saat ini. Kita dapat memikirkan “ziarah setiap hari” bersama dengan The Pilgrim’s Progress (1678) karya John Bunyan yang lebih terkenal. Di sini, karakter “Setia” (salah satu kebajikan teologis: iman) belajar dari “Kristen” (seorang Kristen dalam perjalanan spiritualnya). Bahwa “sebuah karya kasih karunia” dapat ditemukan dengan “kekudusan hati, kekudusan keluarga. Percakapan- kekudusan”. Ini karena, Bunyan menulis:

Jiwa agama adalah bagian praktis [al]… untuk mengunjungi yatim piatu dan para janda dalam kesusahan mereka, dan untuk menjaga dirinya tidak ternoda dari dunia.

Sayangnya, di saat virus korona, terkadang dengan tidak mengunjungi orang lain kita mencintai mereka. Tetapi jika tindakan kita (atau kelambanan) setiap hari adalah yang terbaik yang dapat kita lakukan dalam situasi kita saat ini. Dan kita dimotivasi oleh kasih sayang yang “tak ternoda”. Atau rendah hati untuk yang paling rentan dalam masyarakat (“yatim dan janda” kita sendiri) – kita dapat. Seperti orang Kristen Bunyan, menganggap diri kita peziarah, maju bersama, dengan setia melewati. Dan semoga melampaui, lembah yang sekarang ini.

Mengapa Lebih Banyak Tempat Mengabaikan Hari Columbus demi Hari Masyarakat Adat

Hari Columbus semakin membuat orang berhenti dan mulai berpikir.

Semakin banyak kota di seluruh negeri memilih untuk merayakan Hari Masyarakat Adat sebagai alternatif untuk. Atau sebagai tambahan – hari yang dimaksudkan untuk menghormati pelayaran Columbus.

Kritikus perubahan melihatnya hanya sebagai contoh lain dari kebenaran politik yang mengamuk. Titik nyala lain dari perang budaya.

Sebagai seorang sarjana sejarah penduduk asli Amerika – dan anggota dari Lumbee Tribe of North Carolina. Saya tahu ceritanya lebih kompleks dari itu.

Pengakuan dan perayaan Hari Masyarakat Adat yang semakin meningkat. Sebenarnya merupakan buah dari upaya bersama selama puluhan tahun untuk mengakui peran masyarakat adat dalam sejarah bangsa.

Mengapa Columbus?

Hari Columbus adalah hari libur federal yang relatif baru.

Pada tahun 1892, resolusi kongres bersama mendorong Presiden Benjamin Harrison untuk menandai “penemuan Amerika oleh Columbus”. Sebagian karena “iman yang saleh dari sang penemu dan untuk perhatian dan bimbingan ilahi yang telah mengarahkan sejarah kita. Dan begitu banyak memberkati kita, orang-orang.”

Orang Eropa memohon kehendak Tuhan untuk memaksakan kehendak mereka pada penduduk asli. Jadi, tampaknya logis untuk memanggil Tuhan ketika menetapkan hari libur untuk merayakan penaklukan itu juga.

Tentu saja, tidak semua orang Amerika menganggap diri mereka diberkati pada tahun 1892. Pada tahun yang sama, seorang jurnalis kulit hitam yang digantung memaksa Ida B. Wells untuk meninggalkan kota asalnya di Memphis. Dan sementara Pulau Ellis telah dibuka pada Januari tahun itu, menyambut imigran Eropa. Kongres telah melarang imigrasi Tiongkok satu dekade sebelumnya. Menundukkan orang-orang Tiongkok yang tinggal di AS ke penganiayaan yang meluas.

Dan kemudian ada filosofi pemerintah terhadap penduduk asli Amerika. Yang terucap oleh Kolonel Angkatan Darat Richard Henry Pratt pada tahun 1892. “Semua orang India yang ikut dalam perlombaan harus mati. Bunuh orang India itu di dalam dirinya, dan selamatkan orang itu. ”

Butuh 42 tahun lagi bagi Hari Columbus untuk secara resmi menjadi hari libur federal. Berkat dekrit tahun 1934 oleh Presiden Franklin D. Roosevelt.

Katanya, sebagian, untuk kampanye oleh Knights of Columbus. Sebuah badan amal Katolik nasional yang terbuat untuk memberikan layanan kepada para imigran Katolik. Seiring waktu, agendanya ekspansi hingga mencakup advokasi untuk nilai-nilai sosial dan pendidikan Katolik.

Ketika orang Italia pertama kali tiba ke Amerika Serikat, mereka menjadi sasaran marginalisasi dan diskriminasi. Merayakan secara resmi Christopher Columbus – seorang Katolik Italia. Menjadi salah satu cara untuk menegaskan tatanan rasial baru yang akan muncul untuk AS pada abad ke-20. Yaitu keturunan dari beragam imigran etnis Eropa menjadi orang Amerika “kulit putih”.

Kekuatan Masyarakat Adat

Tetapi beberapa orang Amerika mulai mempertanyakan mengapa orang Pribumi – yang sudah lama tinggal – tidak memiliki liburan sendiri.

Pada 1980-an, cabang Gerakan Indian Amerika Colorado mulai memprotes perayaan Hari Columbus. Pada tahun 1989, aktivis South Dakota membujuk negara bagian untuk mengganti Hari Columbus dengan Hari Penduduk Asli Amerika. Kedua negara bagian memiliki populasi Pribumi yang besar yang memainkan peran aktif dalam Gerakan Kekuatan Merah pada 1960-an. Dan 1970-an, yang berusaha membuat orang Indian Amerika lebih terlihat secara politik.

Kemudian, pada tahun 1992, pada peringatan 500 tahun pelayaran pertama Columbus. Asosiasi Orang Indian Amerika bagian Berkeley, California, menyelenggarakan “Hari Masyarakat Adat” yang pertama. Sebuah hari libur yang segera terakui secara resmi oleh dewan kota. Berkeley sejak itu menggantikan peringatan Columbus dengan perayaan masyarakat adat.

Liburan ini juga dapat terlihat asal-usulnya ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada tahun 1977, para pemimpin adat dari seluruh dunia menyelenggarakan konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jenewa. Untuk mempromosikan kedaulatan dan penentuan nasib sendiri masyarakat adat. Rekomendasi pertama mereka adalah “untuk merayakan 12 Oktober. Hari ‘penemuan’ Amerika. Atau sebagai Hari Solidaritas Internasional dengan Penduduk Asli Amerika”. Butuh waktu 30 tahun lagi agar pekerjaan mereka tertulis secara resmi dalam Deklarasi PBB. Khususnya tentang Hak-Hak Masyarakat Adat. Yang telah terbit pada September 2007.

Sekutu Tak Terduga

Saat ini, kota dengan populasi asli yang signifikan, seperti Seattle, Portland, dan Los Angeles. Sekarang merayakan Hari Penduduk Asli Amerika atau Hari Masyarakat Adat. Dan negara bagian seperti Hawaii, Nevada, Minnesota, Alaska. Dan Maine juga secara resmi mengakui populasi Pribumi mereka dengan hari libur serupa. Banyak pemerintah Pribumi. Seperti Cherokee dan Osage, Oklahoma. Mereka tidak merayakan Hari Columbus atau telah menggantinya dengan hari libur mereka sendiri.

Tapi Anda juga akan menemukan peringatan. Apalagi tempat-tempat yang kecil kemungkinan. Alabama merayakan Hari Penduduk Asli Amerika bersamaan dengan Hari Columbus. Seperti halnya Carolina Utara, yang, dengan populasi lebih dari 120.000 Penduduk Asli Amerika. Memiliki jumlah Penduduk Asli Amerika terbesar. Khususnya negara bagian mana sebelah timur Sungai Mississippi.

Pada 2018, kota Carrboro, Carolina Utara, mengeluarkan resolusi untuk merayakan Hari Masyarakat Adat. Resolusi tersebut mencatat. Fakta bahwa ada kota berisi 21.000 orang, terletak atas tanah adat. Dan berkomitmen untuk “melindungi, menghormati dan memenuhi seluruh hak asasi manusia yang melekat,” termasuk hak masyarakat adat.

Sementara Hari Columbus menegaskan kisah sebuah bangsa. Orang Eropa membuat peringatan ini. Untuk orang Eropa Hari Colombus penting. Hari Masyarakat Adat menekankan sejarah Pribumi dan orang Pribumi. Sebuah tambahan penting. Apalagi untuk warga memahami tentang negara Amerika. Tentang apa artinya menjadi orang Amerika.

Mengapa China Mungkin ingin Memperbaiki Hubungan yang Rusak dengan Vatikan?

Perpecahan selama 65 tahun antara China dan Vatikan akhirnya bisa diperbaiki. Kardinal Hong Kong John Tong baru-baru ini mengindikasikan bahwa mungkin ada kesepakatan mengenai masalah paling sulit antara kedua belah pihak. Hak Vatikan untuk menunjuk uskupnya sendiri di China.

Perbaikan tersebut memerlukan lebih dari sekadar pembaruan hubungan resmi antara negara bagian yang paling banyak. Dan paling sedikit penduduknya di dunia.

Selama 40 tahun terakhir, Kekristenan telah tumbuh dengan kecepatan yang sebelumnya tidak terbayangkan di Tiongkok. Tetapi agama Katolik di Cina menemukan dirinya dalam keadaan yang sulit. Ada dua gereja Katolik, yang satu resmi dan yang lainnya “bawah tanah” atau setidaknya tidak resmi. Yang ada pada waktu yang sama di Cina.

China ingin semua praktik keagamaan dipimpin hanya dari dalam negeri. Sementara Vatikan menganggapnya bertentangan secara inheren dengan memikirkan gereja Katolik yang uskupnya tidak dapat dipilih.

Penelitian saya berfokus pada kehidupan dan praktik umat Katolik awam dalam konteks budaya seperti China. Hubungan antara pemerintah dan Vatikan memiliki pengaruh yang signifikan pada kehidupan Katolik biasa di Cina. Jauh lebih banyak daripada di kebanyakan negara lain.

Lantas, bagaimana sejarah perselisihan ini dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat di China?

Bagaimana Kita Sampai di sini

Sikap komunis terhadap agama jelas merupakan sumber kesulitan yang mendasari keadaan saat ini. Namun, tradisi nasionalisme Tionghoa yang lebih lama dan terkadang sengit juga penting untuk dipahami.

Selama ribuan tahun, imperial China sangat menolak pengaruh asing. Para kaisar umumnya menutup negara itu dari pengaruh luar, kecuali dengan cara yang sesuai dengan Cina. Serangkaian misionaris Yesuit yang terkenal mendirikan pijakan Katolik di Tiongkok pada akhir abad ke-16. Berhasil mengatasi perlawanan kekaisaran hanya berdasarkan kemampuan mereka untuk membawa pengetahuan tentang astronomi barat. Matematika, seni, dan penemuan ke Tiongkok, serta kemampuan mereka untuk belajar dan mengakomodasi cara-cara Cina.

Mereka dan anggota ordo lain yang mengikuti berhasil membuat sekitar 200.000 orang Tionghoa menjadi beriman. Namun, sebagai orang asing mereka juga menghadapi perlawanan yang serius.

Misi Jesuit akhirnya berakhir karena jurang budaya antara Timur dan Barat. Sementara Yesuit memperlakukan praktik budaya Tionghoa seperti pemujaan leluhur sebagai hal-hal yang dapat diakomodasi dalam praktik Katolik. Kepausan pada akhirnya menolak ini karena tidak sesuai dengan agama Kristen. Para kaisar, yang melihat ancaman bagi seluruh struktur masyarakat Cina, menekan misi Katolik. Praktik Kristen hampir seluruhnya ditindas pada tahun 1724 dan status agama Kristen sebagai agama asing diperkuat.

Pada tahun 1844, setelah Perang Candu pertama, antara Dinasti Qing dan Prancis dan Inggris Raya. Tiongkok terpaksa membuka kembali dirinya untuk misionaris Kristen. Perang Tiongkok-Eropa berikutnya pada tahun 1856-60 dan 1899-1901 memungkinkan pertumbuhan Gereja yang luar biasa di Tiongkok selama satu abad.

Akan tetapi, bagi banyak orang Tionghoa patriotik, agama Kristen di era ini terikat erat dengan penghinaan nasional dan imperialisme asing.

Setelah Revolusi

Setelah berkuasa pada tahun 1949, Partai Komunis dengan mudah memanfaatkan sentimen nasionalis ini ke dalam ideologinya sendiri. Itu melancarkan serangkaian kampanye sengit melawan Gereja Katolik. Mengusir misionaris asing dan memenjarakan banyak uskup, imam, biarawati. Dan orang awam China yang menolak untuk meninggalkan paus atau iman mereka. Semua bangunan Gereja Katolik diambil alih oleh negara.

Menyadari sulitnya menghilangkan kepercayaan dalam jangka pendek, partai mengembangkan strategi kontrol paralel. Administrasi Negara untuk Urusan Agama dibentuk pada tahun 1954 untuk mengangkat uskup “patriotik” dan mengawasi umat Katolik. Pada tahun 1957, partai tersebut mendirikan Asosiasi Katolik Patriotik, sebuah asosiasi awam yang merupakan. (Dan) gereja Katolik yang diakui secara resmi di Cina. Asosiasi Katolik Patriotik harus melepaskan semua hubungan dengan Roma, tetapi akan mengizinkan umat Katolik untuk berlatih di bawah pengawasan pemerintah.

Banyak umat Katolik bergabung dengan gereja “di atas tanah” ini, melihatnya sebagai strategi terbaik untuk mengatasi situasi tersebut. Baik di penjara atau di tempat lain. Bagaimanapun, banyak umat Katolik lainnya menolak untuk melihat Asosiasi Katolik Patriotik yang independen dari paus sebagai sah secara agama. Dan dengan dorongan Vatikan mengambil praktek mereka di bawah tanah.

Revolusi Kebudayaan (1966-76) menutup semua praktik keagamaan, dan gereja Katolik dihancurkan atau dialihkan untuk keperluan industri. Tetapi sistem gereja patriotik akhirnya bertahan sebagai model.

Kelahiran Kembali Agama, Tetapi Warisan yang Terbagi

Ketika negara itu akhirnya mulai pulih, Asosiasi Katolik Patriotik secara resmi dipulihkan pada tahun 1978. Dan gerejanya dibangun kembali oleh komunitas Katolik di seluruh negeri selama beberapa dekade.

Para uskup dan umat awam Asosiasi Katolik Patriotik memainkan peran yang luar biasa dalam membangun kembali kehidupan dan praktik Katolik. Tetapi tidak pernah menggantikan gereja bawah tanah. Yang memperoleh legitimasi moral tambahan di mata banyak umat Katolik Cina atas kesediaannya untuk berjuang demi iman.

Dengan sanksi Vatikan, gereja bawah tanah menamai uskup dan imam tertahbisnya sendiri dan bahkan tampaknya menjalankan seminari.

Jumlah pasti keanggotaan bawah tanah tidak mungkin dipastikan. Secara resmi, ada 5,1 juta umat Katolik di gereja-gereja “di atas tanah”. Dua sarjana berpendapat ada “setidaknya sebanyak Katolik” yang termasuk dalam gereja Katolik bawah tanah.

Selama bertahun-tahun ada konflik yang signifikan antara gereja-gereja mengenai otoritas moral mereka. Tetapi selama bertahun-tahun ini telah berkurang secara signifikan di banyak tempat. Di gereja-gereja Asosiasi Katolik Patriotik yang saya kunjungi. Para pendeta dan orang-orang di atas tanah sering menyebutkan beberapa kesempatan pendidikan yang mereka miliki dengan seorang teolog Katolik dari Barat. Atau menunjukkan kasih sayang mereka kepada paus.

Beberapa gereja “bawah tanah” bersembunyi hari ini. Umumnya, mereka bertemu di depan mata. Dan banyak pastor yang dikatakan bekerja di kedua gereja Gereja Asosiasi Katolik Patriotik sering secara terbuka memajang foto-foto paus. Pejabat dan cendekiawan Gereja lebih suka menggunakan istilah yang tidak terlalu polemik, “resmi” dan “tidak resmi.”

Menghilangkan Pasar Gelap?

Selama beberapa dekade, secara sedikit demi sedikit, Administrasi Negara untuk Urusan Agama China dan Vatikan sering bekerja untuk memastikan bahwa para uskup yang diangkat dapat diterima oleh masing-masing pihak.

Tetapi ada juga masalah besar, seperti pada tahun 2012 ketika seorang uskup yang disepakati bersama. Thaddeus Ma Diqin, mengumumkan pada akhir penahbisan uskupnya bahwa tidak lagi “nyaman” baginya untuk tetap menjadi anggota Patriotik. Asosiasi Katolik. Pemerintah mencabut gelar dan dia menghabiskan waktu bertahun-tahun di luar pandangan publik karena “dididik ulang”.

Abu-abu karena garis tersebut mungkin dalam praktiknya, perpecahan hukum antara gereja atas tanah dan bawah tanah jelas telah mengakibatkan hilangnya kesempatan bagi Gereja Katolik. Sebelum 1948, mayoritas umat Kristiani di Cina beragama Katolik. Dan dalam beberapa tahun terakhir, gabungan populasi Katolik di atas dan bawah tanah pada 9-12 juta telah mengejar persentase yang sama dari populasi yang diwakili oleh umat Katolik pada tahun 1948.

Pertumbuhan yang sangat cepat dalam beberapa dekade terakhir, bagaimanapun, telah terjadi di antara gereja-gereja Protestan independen di Cina, yang tidak dibatasi oleh perpecahan di atas dan bawah tanah yang sama.

Sosiolog Fengang Yang menyarankan bahwa sangat membantu untuk memikirkan gereja bawah tanah sebagai semacam “pasar gelap”, dan menyarankan bahwa kerja sama gereja “di atas tanah” dengan Vatikan merupakan semacam “pasar abu-abu” religius.

Dari sudut pandang saya, jika pemerintah berpikir dengan pragmatis yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa cara terbaik untuk menghilangkan pasar gelap adalah dengan menghilangkan alasan keberadaannya. Sebuah pemulihan hubungan Sino-Vatikan atas kekuasaan untuk menunjuk uskup akan mencapai itu, memungkinkan gereja-gereja “bawah tanah” dan “di atas tanah” untuk bersatu sepenuhnya.

Kesepakatan seperti itu, saya yakin, tidak akan menghilangkan semua kekhawatiran China atau Vatikan, tetapi mungkin akan memungkinkan situasi yang dapat dihadapi keduanya. Ini tentu akan membuat hidup lebih mudah bagi umat Katolik awam di Cina.

Apa itu Katolikisme Karismatik?

Presiden Donald Trump telah menominasikan Hakim Amy Coney Barrett untuk menggantikan Hakim Ruth Bader Ginsburg di Mahkamah Agung.

Pertanyaan telah diajukan tentang dugaan asosiasinya dengan “Orang-orang Pujian”. Sebuah komunitas karismatik Kristen non-denominasi, yang dipandang oleh beberapa orang sebagai pengaruh potensial pada pemikiran hukumnya. Terutama mengenai hak-hak aborsi.

Orang-orang Pujian menyerahkan kepada anggota individu untuk mengungkapkan afiliasi mereka, dan Barrett belum berbicara tentang keanggotaannya. Jadi, pertanyaannya tetap: Apa itu Katolikisme karismatik?

Pantekostalisme di AS

Karismatik Katolik mempraktikkan bentuk-bentuk Pentakostalisme yang menganut kepercayaan bahwa individu dapat menerima karunia Roh Kudus.

Pentakostalisme modern di Amerika Serikat dimulai di Azuza Street di Los Angeles.

Mulai tahun 1906, pendeta Afrika-Amerika William J. Seymour memimpin sebuah jemaat di kota yang mengaku telah menerima hadiah ajaib dari Tuhan, seperti nubuatan dan kekuatan untuk menyembuhkan. Gerakan itu kemudian dikenal sebagai kebangkitan Jalan Azuza.

Anggota jemaah Jalan Azuza percaya bahwa mereka telah diberi berkat yang sama seperti yang diterima oleh murid-murid Yesus. Menurut Kisah Para Rasul Alkitab, pada hari Pentakosta – festival panen Shavuot Yahudi 50 hari setelah Paskah. Roh Kudus turun dalam bentuk api di atas kepala para murid. Setelah itu, diyakini, para murid dapat berbicara dalam bahasa yang tidak mereka pahami untuk menyatakan “keajaiban Tuhan.”

Dalam agama Kristen, Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Tritunggal dan dikaitkan dengan tindakan Tuhan di dunia.

Gerakan Karismatik Katolik

Ajaran Pantekosta ini kemudian memengaruhi gerakan karismatik Katolik yang awalnya berlangsung di AS pada 1960-an.

Selama pertemuan doa tahun 1967 di Dusquesne University di Pittsburgh. Sekelompok mahasiswa dan profesor berbicara tentang “karisma”, atau hadiah khusus, yang diterima melalui Roh Kudus.

Menurut laporan langsung, fakultas sangat dipengaruhi oleh dua buku dari tradisi Pantekosta. “The Cross and the Switchblade” dan “They Speak with Other Tongues.”

Pengalaman serupa dari Roh Kudus kemudian dilaporkan pada pertemuan doa di Universitas Notre Dame dan Universitas Michigan.

Sejak awal, gerakan karismatik Katolik telah menyebar ke seluruh dunia.

Untuk karismatik Katolik, pengalaman utamanya adalah “baptisan Roh Kudus.” Baptisan Roh Kudus berbeda dari baptisan bayi Katolik tradisional dengan air. Orang dewasa yang dibaptis dalam Roh Kudus memiliki iman yang dilahirkan kembali. Dan diperkuat oleh anggota jemaat yang meletakkan tangan mereka ke atas mereka.

Seringkali tanda baptisan Roh Kudus adalah “glossolalia,” atau “berbicara dalam bahasa roh”. Berbicara dalam bahasa roh mengacu pada penggunaan bahasa yang tidak dapat dimengerti. Yang sering ditafsirkan oleh orang lain di sidang. Biasanya glossolalia dianggap sebagai bentuk doa. Namun di lain waktu, glossolalia diyakini mengandung ramalan tentang peristiwa sekarang atau masa depan.

Peserta gerakan karismatik Katolik juga mengklaim penyembuhan spiritual. Dan fisik yang terkait dengan kekuatan Roh Kudus yang bekerja melalui orang percaya.

Layanan doa karismatik Katolik sangat antusias dan melibatkan nyanyian yang energik, tepuk tangan dan doa dengan tangan terentang.

Kontroversi dan Dukungan

Ada juga Katolikisme karismatik yang percaya dapat mengusir roh jahat.

Komunitas karismatik Katolik di India yang saya teliti mempraktikkan eksorsisme serta penyembuhan iman. Kelompok itu juga memiliki daftar roh jahat yang mereka klaim telah mereka tangani.

Tidak semua kelompok karismatik Katolik melakukan pengusiran setan. Terutama karena Vatikan memperketat prosedur pengusiran setan dengan mengizinkan mereka dilakukan secara formal hanya oleh para pendeta. Tetapi praktik karismatik Katolik tetap kontroversial bagi sebagian orang karena berbeda dari ibadat Katolik arus utama.

Baru-baru ini, karismatik Katolik menemukan sekutu yang kuat dalam diri Paus Fransiskus. Nyatanya, di Stadion Olimpiade Roma, paus pernah berlutut dan diberkati oleh pertemuan ribuan umat Katolik karismatik. Semuanya berbicara dalam bahasa roh.

Para komentator tidak setuju tentang apakah keanggotaan Barrett dalam komunitas religius karismatik harus menjadi masalah dalam setiap audiensi nominasi potensial. Tetapi kelompok dan gereja karismatik atau Pantekosta mewakili segmen agama Kristen yang tumbuh paling cepat di seluruh dunia. Untuk alasan ini, kepercayaan Amy Coney Barrett mungkin dianut oleh banyak orang Kristen kontemporer.

Dari Mana Asal Katedral dan Kapel?

Katedral dan kapel telah memainkan peran penting dalam perkembangan budaya Kristen.

Sebagai seorang sarjana Alkitab, Yudaisme dan Kristen. Saya telah mempelajari pentingnya sejarah struktur ini dan peran penting yang mereka mainkan dalam praktik iman banyak orang Kristen.

Arsitektur Kristen Awal

Katedral dan kapel tidak hanya menyediakan ruang untuk beribadah, tetapi juga menjadi wadah untuk menampilkan ikonografi dan seni religius.

Sampai awal abad keempat Masehi, banyak seni dan ruang ibadah Kristen mula-mula terjadi di katakombe. Lokasi bawah tanah tempat orang Kristen menguburkan anggota komunitas mereka.

Secara tradisional dianggap bahwa orang Kristen menggunakan katakombe seperti itu karena penganiayaan oleh pemerintah Romawi. Namun, penganiayaan semacam itu terjadi secara berkala dan tidak berkelanjutan. Penjelasan lain telah ditawarkan terkait penggunaan katakombe secara teratur sebagai hasilnya.

Bagaimanapun, kuburan semacam itu menjadi gudang ekspresi seni di dekade awal agama.

Adegan yang menonjol termasuk penggambaran Alkitab yang menyoroti pembebasan dari kematian.

Penggambaran Yesus dari Nazareth muncul di katakombe ini, tetapi sering kali meminjam dari rupa dewa Yunani Hermes. Yang berfungsi sebagai dewa pembawa pesan sekaligus pembawa jiwa di akhirat.

Salib sebagai simbol iman Kristen yang ditampilkan secara luas. Akan menjadi lebih sering hanya setelah kaisar Romawi Constantine menjadi Kristen pada abad keempat M.

Pengembangan Katedral

Dengan dukungan kekaisaran, orang Kristen mulai membangun tempat ibadah mereka. Yang dikenal sebagai “gereja” dari bahasa Yunani kuriake “milik tuan”, di atas tanah.

Praktik bangunan seperti itu meminjam dari dua bidang utama prekursor: kuil kuno dan tempat-tempat pemerintahan Romawi.

Kuil-kuil kuno lintas budaya, termasuk yang ada di Yerusalem, umumnya dianggap sebagai ruang tempat tinggal dewa atau dewi.

Banyak orang Kristen kuno dan modern percaya bahwa Yesus secara fisik hadir dalam persekutuan. Ritual yang dalam beberapa pemikiran Kristen melibatkan transformasi sebenarnya dari roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Yesus.

Dengan demikian, katedral seperti Basilika San Vitale di Italia, yang dibangun pada abad keenam M. Berisi mosaik untuk menggambarkan Yesus benar-benar hadir dalam persekutuan. Bangunan-bangunan ini memanfaatkan sejarah agama yang dipegang secara luas bahwa dewa bersemayam di tempat suci.

Banyak dari kuil kuno pra-Kristen ini, termasuk Kuil di Yerusalem, berorientasi dari timur ke barat. Katedral Kristen untuk sebagian besar di dunia kuno dan modern menggunakan poros timur ke barat ini juga. Beberapa tradisi menempatkan persekutuan ke arah timur – disebut “berorientasi” – dan lainnya ke arah barat – disebut “barat”.

Pengecualian penting terjadi, seperti di Kapel Rockefeller di Universitas Chicago. Yang awalnya merupakan sekolah Baptis, yang kapelnya diorientasikan dari utara ke selatan.

Sumber utama kedua bagi gereja-gereja Kristen mula-mula adalah gedung-gedung administrasi Romawi. Nama cathedral itu sendiri berarti “tempat duduk” dan dalam masyarakat Romawi dirujuk ke lokasi di mana gubernur akan mengadili. Dan mengawasi distrik mereka. Ketika paus berbicara dari tahta kekuasaannya, dia mengucapkan “ex cathedra.”

Kuil Romawi memiliki struktur yang berbeda. Tetapi basilika Romawi, dengan gaung pemerintahan dan dukungan kekaisaran, malah dipilih, bersama dengan orientasi timur ke barat dari kuil kuno. Sebagai desain dasar untuk katedral semacam itu.

Bagaimana Kapel Terbentuk?

Berbeda dengan desain katedral yang seringkali besar dan mengesankan. Kapel dalam agama Kristen mewakili konsep ibadah agama dalam skala yang lebih kecil.

Istilah kapel berasal dari Martin of Tours. Seorang uskup di gereja mula-mula dari Prancis yang mengenakan jubah saat berjalan melewati seorang pria miskin. Martin diingatkan akan kata-kata Yesus dalam Injil Matius bahwa membantu orang miskin sebenarnya adalah membantu dan menyembah Tuhan. Martin memberi pria malang itu jubahnya dan orang yang miskin itu mengungkapkan dirinya sebagai Yesus sendiri.

Potongan jubah ini, setelah menyentuh Yesus, dianggap memiliki makna khusus. Akibatnya, bangunan kecil dibangun untuk menampung mereka. Bangunan kecil ini dikenal sebagai kapel, berasal dari bahasa Latin capella yang berarti “jubah kecil”.

Ruang ibadah tersebut tidak memiliki alat musik untuk mengiringi kebaktian. Alhasil, kata a capella, yang berarti “menurut kapel” atau “dalam gaya kapel,” mencerminkan cara beribadah di gereja kecil itu.

Bagaimana Wanita Katolik Berjuang Melawan Larangan Vatikan tentang Kontrasepsi?

Lima puluh tahun lalu, perdebatan sengit meletus di Gereja Katolik atas dokumen kepausan “Humanae Vitae”. Yang menegaskan kembali larangan gereja atas kontrasepsi buatan. Enam ratus sarjana, termasuk banyak pendeta, berbeda pendapat dari ajarannya. Memicu perdebatan yang menyebabkan krisis otoritas di gereja sedunia.

Sementara banyak perhatian difokuskan pada pertempuran epik antara teolog dan gereja institusional. Yang tidak diragukan lagi signifikan, sebagai sejarawan perempuan Katolik. Saya menemukan tanggapan dari perempuan awam Katolik lebih menarik.

Ketika para teolog berselisih pendapat, para uskup mengamuk dan para paus berusaha keras, wanita awam Katolik. Dan pasangan mereka membuat keputusan keluarga berencana sendiri, seperti yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun sebelumnya. Dan akan dilakukan selama beberapa dekade setelahnya.

Apa itu Humanae Vitae?

Humanae Vitae adalah ensiklik kepausan yang dirilis oleh Paus Paulus VI pada tahun 1968. Namun, itu bukanlah dokumen kepausan pertama yang melarang penggunaan kontrasepsi. Tiga puluh delapan tahun sebelum ensiklik itu. Paus Pius XI telah merilis sebuah dokumen berjudul “Casti Connubbi,” yang melarang umat Katolik menggunakan kontrasepsi buatan.

Ada beberapa perbedaan yang jelas antara kedua ensiklik tersebut. Yang pertama bersikeras bahwa prokreasi adalah tujuan utama dari tindakan seksual. Yang kedua mengatakan bahwa tujuan “persatuan” – yaitu, penggunaan seks sebagai alat untuk mengungkapkan cinta dan memperkuat persatuan perkawinan – sama pentingnya.

Tetapi Paulus VI pada akhirnya menegaskan bahwa persatuan tidak dapat dipisahkan dari prokreasi. Menurut Gereja Katolik, setiap tindakan perkawinan harus terbuka untuk kehidupan.

Meskipun Humanae Vitae sebagian besar menegaskan ajaran yang mapan, hal itu masih kontroversial. Ini karena perdebatan di antara para teolog dan umat awam dalam 30 tahun setelah Casti Connubi menyebabkan banyak orang percaya. Bahwa ensiklik 1968 akan membatalkan larangan Gereja atas kontrasepsi buatan.

Peran wanita Katolik

Yang penting untuk dicatat adalah bahwa jauh sebelum 600 teolog menyatakan perbedaan pendapat. Perempuan awam Katolik sudah mulai menolak ajaran ini. Salah satu alasan utamanya adalah apa yang diyakini banyak orang sebagai kelemahan utama dalam argumen Vatikan.

Sejak tahun 1940-an, sejumlah besar pasangan Katolik didorong untuk menggunakan metode ritme. Atau pengaturan waktu seks bertepatan dengan “periode aman” dalam siklus wanita. Paling sering ditentukan dengan memetakan pembacaan suhu harian. Ini adalah cara yang diterima untuk menghindari pembuahan, karena mereka tidak diizinkan menggunakan metode penghalang untuk mencapai tujuan yang sama.

Banyak yang gagal memahami atau menerima logika ini. Jika gereja mengakui bahwa pasangan dapat memilih untuk membatasi ukuran keluarga mereka. Mengapa hal itu tidak memungkinkan mereka menjadi cara yang lebih efektif untuk melakukannya. Itulah yang ditanyakan banyak wanita. Mereka juga tidak yakin setiap tindakan seksual harus terbuka jika pasangan terbuka untuk memiliki anak.

Pembelajaran Baru

Jadi, mulai tahun 1940-an, pria dan wanita awam Katolik mulai secara terbuka membahas ajaran gereja tentang kontrasepsi. Pada awal 1960-an, ketika pil KB mulai umum digunakan, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi sangat mendesak. Wanita awam Katolik secara teratur menulis di pers Katolik. Dan di tempat lain mengungkapkan pandangan mereka sebagai wanita yang sudah menikah. Dan mendorong percakapan yang mempertanyakan larangan tersebut.

Mereka menulis dengan fasih tentang pernikahan mereka, kehidupan seks mereka, perjuangan mereka dengan kehamilan tanpa akhir. Dan, semakin, frustrasi mereka dengan ritme. Satu-satunya metode pembatasan keluarga yang memungkinkan mereka gagal berulang kali. Sementara keharusan menyangkal seks menyebabkan perpecahan dalam pasangan yang sudah tertekan oleh perawatan keluarga besar.

Frustrasi tersebut sering kali termasuk para pendeta yang mempromosikan ritme. “Bagi saya dan banyak umat Katolik, ritme adalah perwujudan dari sikap banyak pendeta yang memandang rendah dari alas kaki mereka. Menawarkan kepada kami kata-kata hampa dan hukum, tanpa melihat masalah kami yang sebenarnya,” tulis Carolyn Scheibelhut. Seorang wanita awam Katolik Amerika, di surat kepada editor majalah Katolik Marriage, pada tahun 1964.

Apakah Vatikan Mendengar Suara Wanita Awam?

Suara wanita awam akhirnya mencapai Vatikan melalui komisi pengendalian kelahiran kepausan yang dibentuk oleh Paus Yohanes XXIII. Antara tahun 1963 hingga 1966, untuk mempelajari masalah kontrasepsi buatan.

Patty Crowley, salah satu pendiri Gerakan Keluarga Kristen dan salah satu dari sedikit wanita menikah yang diundang untuk berpartisipasi. Membawa serta hasil survei pasangan Katolik yang sangat menggambarkan perjuangan mereka dengan ajaran tersebut. Meskipun sering kali upaya heroik untuk mematuhinya .

Dia kemudian berkomentar, “Itu menurut saya konyol…. Bagaimana mereka bisa membicarakan tentang pernikahan dan keluarga berencana tanpa banyak masukan dari orang-orang yang terlibat?” Crowley bersaksi di depan komisi, mengatakan kepada mereka bahwa, selain tidak dapat diandalkan. Ritme secara psikologis berbahaya, tidak menumbuhkan cinta atau persatuan pernikahan dan, terlebih lagi, tidak wajar.

Dalam apa yang tentunya merupakan yang pertama dalam kelompok pria yang sebagian besar selibat ini. Crowley menjelaskan bahwa mayoritas wanita paling menginginkan hubungan seksual selama ovulasi. Tepatnya ketika mereka diajari untuk menghindari seks. “Setiap buku psikologi sederhana memberi tahu kita. Bahwa orang-orang yang berada dalam keadaan ketat terus-menerus di area yang harus terbuka. Dan bebas dan penuh kasih sedang merusak diri mereka sendiri dan akibatnya orang lain,” dia bersikeras.

Collette Potvin, wanita lain yang sudah menikah yang bersaksi, ingat berpikir “Ketika Anda mati, Tuhan akan berkata, ‘Apakah kamu mencintai?’ Dia tidak akan berkata, ‘Apakah kamu mengukur suhu tubuhmu?’”

Dibujuk oleh kesaksian ini dan kesaksian lainnya, komisi memilih untuk membatalkan larangan tersebut. Dibocorkan ke pers pada tahun 1967, keputusan ini meningkatkan harapan orang awam di seluruh dunia. Harapan ini memicu kemarahan ketika Paus Paulus VI memilih untuk mengabaikan laporan mayoritas dari komisinya sendiri pada tahun 1968.

Penggunaan Kontrasepsi saat ini

Lantas, apakah mayoritas perempuan Katolik mengikuti ajaran Humanae Vitae tentang penggunaan kontrasepsi?

Data yang tersedia menunjukkan bahwa mereka tidak melakukannya. Pilihan mereka untuk mengabaikan ajaran ini dimulai jauh sebelum surat itu dirilis. Di antara wanita Katolik Amerika, misalnya, pada 1955, 30 persen menggunakan kontrasepsi buatan. Sepuluh tahun kemudian, angka itu mencapai 51 persen, semua sebelum larangan itu diulangi lagi pada 1968.

Pada tahun 1970, jumlah wanita Katolik di AS yang menggunakan kontrasepsi mencapai 68 persen. Dan saat ini hampir tidak ada perbedaan antara praktik kontrasepsi Katolik dan non-Katolik di Amerika Serikat. Secara global, pada 2015, ada sedikit perbedaan antara wilayah Katolik dan non-Katolik. Misalnya, persentase penggunaan kontrasepsi di Amerika Latin yang sangat Katolik dan Karibia adalah 72,7 persen. Meningkat 36,9 persen sejak tahun 1970 – dibandingkan dengan 74,8 persen di Amerika Utara.

Saya berpendapat bahwa peringatan 50 tahun Humanae Vitae adalah momen untuk mengenang wanita awam. Yang mengubah sejarah Katolik sebelum, selama, dan setelah 1968. Keputusan kolektif wanita awam untuk mengabaikan ajaran yang benar-benar membentuk sikap modern umat Katolik terhadap pengendalian kelahiran.