Mengenang masa lalu adalah pilihan setiap orang. Tidak peduli seperti apa masa lalu tersebut dan mau bagaimana kita menyikapinya, masa lalu itu tidak akan berubah dan akan selalu menjadi bagian dari sejarah.

Indonesia sendiri memiliki masa lalu yang terbilang cukup kelam pada masanya. Seperti perang dunia kedua ataupun penjajahan. Masa-masa itu sangatlah pahit bagi bumi ibu pertiwi kita.

Banyaknya pengorbanan yang telah para pejuang berikan untuk bumi kita, banyak dari mereka yang gugur, tetapi melukis kisah kemerdekaan yang luar biasa. Meningat banyaknya umat di negara ini, pasti tidak serta merta memecahkan kesatuan negara.

Bahkan semua umat itu bersatu demi kemerdekaan. Lalu kali ini kita akan melihat lebih dekat seperti apa salah satu umat di Indonesia pada masa kolonial dulu.

Umat Katolik

Pada saat itu Umat Katolik berbaur dan hidup berdampingan dengan Umat Muslim. Sayangnya mereka seperti orang asing begitu memasuki gereja karena merasa lebih rendah dari pada golongan orang-orang eropa.

Beralih menuju pendudukan Jepang, Umat Katolik di Indonesia sepertinya tidak lebih baik dari sebelumnya. Menurut seorang budayawan serta rohaniwan, Gregorius Budi Subanar, beberapa pemimpin dari umat katolik ditahan. Pelayanan yang mereka dapatkan juga tidak terlalu baik bahkan nyaris tersendat.

Di sisi yang berbeda, menurut Romo Banar, mereka yaitu Umat Katolik bahkan ada yang keluar dari kepercayaannya dengan cara mengembalikan buku-buku doa ke dalam gereja. Meski begitu, para pemimpin yang bertahan tetap berusaha sekuat mungkin.

Nasib yang Tragis

Dengan perlakuan seperti itu, banyak dari para pemimpin yang memiliki darah belanda di dalamnya mengalami nasib tragis. Mereka ditangkap lalu mendekam dalam penjara bahkan sebanyak 173 imam misionaris langsung dijebloskan ke dalam kamp interniran.

Hal tersebut berlanjut pada pemimpin yang ada di Langgur. Mereka langsung ditangkap oleh pasukan tentara Jepang yang mendarat di Indonesia. Proses penangkapan tersebut berlangsung pada bulan Mei tahun 1942.

Sedangkan untuk bentuk otoritasa yang ada di sana merupakan bentuk Vikarat Apostolik. Bentuk otoritas ini adalah otoritas yang terbentuk dalam sebuah kawasan ataupun daerah dari misi negara tanpa adanya keuskupan. Status ini juga meningkat di daerah Semarang menjadi tingkat Keukupan Agung pada tahun 1961.

Beralih menuju Kota Surakarta, tiga orang misionaris serta dua lainnya ditangkap pada tanggal 30 Mei tahun 1942. Setelah itu pada tanggal 28 Juni tahun 1942, para anggota dari Tarekat Maria juga ikut tertangkap. Menyusul orang-orang lainnya yang sebelumnya telah tertangkap.

Pihak pemerintah Jepang juga mengeluarkan perundang-undangan yang menyulitkan para Umat Katolik. Dalam undang-undang tersebut semua Umat Katolik yang akan beribadahdiharuskan menggunakan bahasa musuh yang tidak lain adalah Bahasa Belanda.

Para Pastor yang menjalankan tugasnya pun berada di bawah kontrol dan semua laporan tersebut harus lengkap.

Perjuangan Seorang Lelaki Bernama Soegijapranata

Banyaknya para pemimpin Umat Katolik yang gugur akibat tertangkap oleh pihak Jepang, seorang Soegijapranata menjadi satu-satunya pilar yang masih menjaga keutuhan persatuan Umat Katolik di Kota Semarang.

Ia memiliki antusias dan juga semangat juang yang tinggi. Soegijapranata merupakan seorang pemimpin yang selalu rutin berkomunikasi dengan para aktivis gereja. Salah satunya adalah seorang pemimpin bernama Mgr. P. Willekens, seorang Vikaris Apostolik yang berasal dari Batavia. Beliau mendapatkan pembebasan berkat bantuan dari pihak diplomat Negara Swiss.

Keduanya saling berkomunikasi dengan menggunakan surat. Bersama dengan Rektor Seminari Kecil Mertoyudan dari Jawa Tengah. Mgr. P. Willekens dan juga dirinya mengirim surat perizinan untuk membuka kembali Seminari Menengah pada pihak pemerintah Jepang.

Walaupun berada dalam situasi yang sulit seperti itu, Soegijapranata hebatnya berhasil mengatur tingkat pelayanan secara langsung menuju daerah-daerah kecil maupun melewati surat-menyurat.
Bahkan surat yang terkirim pun berjumlah ratusan setiap minggunya.

Selain itu juga Soegijapranata melakukan komunikasi dengan Sukarno. Ia pernah ke Semarang untuk melakukan pidato sambil menyerukan semangat juang kepada para pemuda untuk mengikuti gerakannya.

Setelah kemerdekaan berhasil Indonesia dapatkan, Umat Katolik pada saat itu menyatakan 100% katolik dan juga seorang warga Indonesia. Motto tersebut menjadi populer di kalangan para pemeluk Katolik.